BAPA-BAPA GEREJA

Bapa Gereja adalah sekelompok teolog gereja yang banyak di antaranya adalah murid-murid Kristen pada zaman awal. Mereka disebut Bapa Gereja karena hidup mereka relatif dekat dengan zaman para rasul, dan karya serta ajaran mereka diakui sebagai benar oleh seluruh gereja. Selain itu, gereja juga mengakui kekudusan hidup mereka.

Salah satu tulisan penting dari periode gereja awal adalah Didakhe. Kitab ini ditulis pada zaman yang hampir bersamaan dengan penulisan Perjanjian Baru. Didakhe memberikan gambaran tentang kehidupan komunitas gereja awal, termasuk dalam hal moralitas, praktik liturgi, dan panduan bagi para pelayan gereja. Kitab ini terdiri dari empat bagian utama: traktat tentang dua jalan hidup, instruksi liturgi yang mencakup baptisan, puasa mingguan, doa Bapa Kami, dan Ekaristi, panduan mengenai pelayan gereja, dan penutupan yang berisi pandangan eskatologis. Kitab Didakhe ditulis oleh seorang penulis anonim yang berlatar belakang Kristen Yahudi dan ditujukan untuk umat Kristen Yahudi pada masa itu. Ada dua hipotesis mengenai tempat penulisannya, yaitu di Mesir atau di Siria. Waktu penulisan Didakhe juga diperdebatkan, ada yang berpendapat bahwa kitab ini ditulis antara tahun 50 hingga 70 M, sementara yang lain berpendapat bahwa Didakhe ditulis antara tahun 110 hingga 120 M, karena pengaruh dari Injil Matius yang ditulis sekitar tahun 80-90 M.

Dalam refleksi eskatologi, kita diajarkan untuk selalu berjaga-jaga dalam menyambut kedatangan Tuhan pada zaman akhir, karena kita tidak tahu kapan Tuhan akan datang. Oleh karena itu, yang terpenting adalah berusaha untuk melakukan hal-hal yang baik dan berguna bagi keselamatan jiwa serta berusaha untuk menjalankan seluruh ajaran Tuhan dengan sempurna.

Bapa-bapa Gereja antara lain:

1.  Yustinus Martir, lahir sekitar tahun 100 M di Nablus, Samaria, dan dibesarkan di lingkungan yang kental dengan filsafat Yunani. Yustinus menguasai berbagai bidang seperti literatur, filsafat, sejarah, dan retorika, dan dikenal sebagai pembicara yang handal. Suatu hari, ketika sedang berjalan-jalan, Yustinus bertemu dengan seorang lelaki tua yang membagikan pengetahuan filsafat yang lebih mendalam dan memuaskan jiwa Yustinus dibandingkan dengan apa pun yang pernah ia pelajari sebelumnya. Orang tua tersebut juga mendorong Yustinus untuk berdoa agar Tuhan memberi terang dan pengertian. Setelah itu, Yustinus memutuskan untuk mempelajari Kitab Suci dan ajaran-ajaran iman Kristen.


2. Irenius dari Lyon

   Irenius berasal dari Smirna dan lahir sekitar tahun 155. Ia mengenal Uskup Polikarpus dan menerima tradisi iman yang berakar di Gereja Smirna dan Efesus. Setelah tinggal di Roma, ia menjadi imam dan kemudian uskup di Lyon. Karyanya yang paling terkenal, Adversus Haereses, membantah ajaran sesat dan menegaskan pentingnya suksesi apostolik dalam menjaga kemurnian iman. Irenius menekankan bahwa para uskup, sebagai penerus para rasul, memiliki otoritas untuk mengajarkan Tradisi yang bersumber dari para rasul dan Kitab Suci. Tradisi ini diturunkan secara berkesinambungan dan menjadi dasar ajaran Gereja. Baginya, Kristus adalah pusat keselamatan, di mana semua ciptaan direkapitulasi (dikembalikan) kepada-Nya. Dalam pandangan eskatologinya, Irenius melihat Anti-Kristus sebagai lawan Kristus yang mewakili segala bentuk kejahatan dan penyesatan sejak awal dunia hingga akhir zaman. Ia juga memiliki pandangan holistik tentang rehabilitasi dunia dalam rencana keselamatan Tuhan.


3. Tertullianus

    Tertullianus lahir sekitar tahun 160 di Kartago dan memiliki latar belakang hukum. Setelah menjadi Kristen karena terinspirasi oleh keberanian para martir, ia ditahbiskan sebagai imam dan menulis banyak karya teologis, apologetik, dan moral. Namun, ia kemudian bergabung dengan sekte Montanisme karena ketidakpuasannya terhadap hierarki Gereja. Montanisme adalah suatu aliran dalam kekristenan awal yang menekankan pada pengalaman bahasa roh (bahasa spiritual) sebagai tanda dari kepenuhan Roh Kudus. Pemimpin-pemimpin aliran ini, seperti Montanus, Priscilla, dan Maximilla, percaya bahwa mereka adalah pembawa wahyu langsung dari Roh Kudus dan Yesus Kristus. Karena itu, mereka mengajarkan bahwa pengikut mereka harus mengikuti dan taat sepenuhnya pada perkataan mereka. Salah satu ciri khas Montanisme adalah penolakan terhadap otoritas gereja yang hierarkis. Mereka merasa bahwa mereka lebih tinggi dan lebih dekat dengan Tuhan karena memiliki bahasa ilahi yang dianggap sebagai wahyu langsung. Selain itu, Montanisme juga menafsirkan peristiwa-peristiwa alam atau sejarah sebagai tanda-tanda dari hukuman atau anugerah Tuhan. Dalam refleksi eskatologinya, Tertullianus mengajarkan bahwa setelah kematian, hanya para martir yang langsung masuk ke hadirat Tuhan, sedangkan orang lain harus tinggal di pratala untuk menjalani hukuman sampai penghakiman akhir. Ia juga menganut pandangan khiliastik, di mana orang-orang benar akan bangkit dan memerintah bersama Kristus selama seribu tahun sebelum dunia dihancurkan dalam penghakiman terakhir. Setelah itu, orang kudus akan bersatu dengan Allah, sementara orang berdosa dihukum dalam api abadi.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

PANGGILAN HIDUP BERKELUARGA

MARIA DALAM KONSILI VATIKAN II: PERAN, KEDUDUKAN, DAN RELEVANSINYA DALAM SEJARAH KESELAMATAN

PENCIPTAAN DALAM TEOLOGI KATOLIK : MAKNA, KASIH TUHAN, DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA